Articles on this Page
- 07/23/08--05:20:_Nawit-Cibarusah-Jayasampu...
- 07/28/08--07:39:_Nawit: Cantik Itu Luka*)
- 08/02/08--20:07:_Trekking di Cemorosewu
- 08/20/08--07:20:_Sepeda Merah Putih ke...
- 08/29/08--20:26:_Sepanjang Kaliwungu -...
- 09/01/08--03:21:_Sepanjang Kaliwungu-Boja
- 09/12/08--16:02:_Hotel California
- 09/15/08--05:32:_Peluncuran Antologi Puisi...
- 09/15/08--05:37:_Pemuatan "Opo-opo Kerso"
- 10/12/08--06:13:_Fenomena Laskar Pelangi
- 10/19/08--09:47:_Trekking di Bukit...
- 10/27/08--07:58:_Perjanjian Di Bukit Kemuning
- 11/05/08--03:56:_Celatu di Bakoel Kopi
- 11/14/08--04:50:_Three Cups of Tea:...
- 12/05/08--17:54:_Sego Segawe
- 12/10/08--07:05:_Surat (3)-- (Di Banten)
- 12/11/08--03:58:_Surat 4 (Athens)
- 12/12/08--17:18:_Sepotong Malam Di Cafe Club
- 12/30/08--16:47:_Surat Old Bohemian ( 8 )
- 01/05/09--00:21:_Kasmaji85
- 02/10/09--19:18:_Solilokui Ibu
- 03/10/09--21:35:_Romansa Di Jalur Gragot
- 05/22/09--20:03:_Pesta Tanjakan...
- 07/22/09--04:00:_Menjaga Solo
- 09/07/09--06:25:_Mudik, 16...
- 09/28/09--09:33:_REUNI PERAK KASMAJI 85...
More Channels
- Feb 23: Prochains événements en...
- Feb 23: Новости раздела...
- Feb 23: Darkwater Studios LLC. RSS Feed
- Feb 22: mel martinez | Keyword Feed
- Dec 20: media research cente | Keyword Feed
- Dec 9: melissa roth | Keyword Feed
- Jan 29: matthew 28 19 | Keyword Feed
- Dec 20: lee ann | Keyword Feed
- Feb 22: marriage guidance | Keyword Feed
- Nov 26: mattew preston | Keyword Feed
- Jan 13: mcgraw hill construction |...
- Feb 13: media independence television...
- Nov 26: meditate on gods word | Keyword...
- Jan 28: melissa kitto | Keyword Feed
- Dec 24: lance briggs | Keyword Feed
- Dec 9: lady b millie | Keyword Feed
- Nov 26: lastings milledge | Keyword Feed
- Jan 13: lee atwater | Keyword Feed
- Nov 26: life long learners | Keyword Feed
- Feb 21: marriage counselling | Keyword Feed
- Feb 11: mary crane | Keyword Feed
- Dec 9: matt amsden | Keyword Feed
- Dec 28: maya angelou cyrus webb |...
- Feb 23: mbl | Keyword Feed
- Jan 17: me confused | Keyword Feed
- Jan 18: media images | Keyword Feed
- Dec 31: medical bad debt accounts |...
- Dec 20: medicare part b | Keyword Feed
- Feb 20: megan carnes is full of crap |...
- Feb 5: melinda doolittle | Keyword Feed
- Nov 26: ladi fam | Keyword Feed
- Feb 23: lady jae | Keyword Feed
- Jan 29: laine cunningham | Keyword Feed
- Dec 14: lakotah | Keyword Feed
- Jan 11: la promesa | Keyword Feed
- Jan 29: lastcomicstanding | Keyword Feed
- Jan 29: laughing women | Keyword Feed
- Nov 26: league wide issues | Keyword Feed
- Jan 17: leila brown | Keyword Feed
- Feb 22: letstalkitoverradio | Keyword Feed
- Jan 15: mark prindle | Keyword Feed
- Dec 9: marquita l. scott | Keyword Feed
- Nov 26: martin sabel mr eldercare |...
- Nov 26: mary b morrison mary morrison...
- Feb 21: mary martin | Keyword Feed
- Jan 17: match writing | Keyword Feed
- Nov 26: maverick mind | Keyword Feed
- Nov 26: max parthas on the burning truth...
- Nov 26: mazda | Keyword Feed
- Dec 9: mbl records musice | Keyword Feed
|
|
Are you the publisher? Claim this channel |
|
Latest Articles in this Channel:
- 07/23/08--05:20: Nawit-Cibarusah-Jayasampurno-Cikedokan (chan 2812888)
- 07/28/08--07:39: Nawit: Cantik Itu Luka*) (chan 2812888)
- 08/02/08--20:07: Trekking di Cemorosewu (chan 2812888)
- 08/20/08--07:20: Sepeda Merah Putih ke Cibereum (chan 2812888)
- 08/29/08--20:26: Sepanjang Kaliwungu - Boja - Kendal (7 Agustus 2008) (chan 2812888)
- 09/01/08--03:21: Sepanjang Kaliwungu-Boja (chan 2812888)
- 09/12/08--16:02: Hotel California (chan 2812888)
- 09/15/08--05:32: Peluncuran Antologi Puisi "Malam, dengan Sebuah Tanda" (chan 2812888)
- 09/15/08--05:37: Pemuatan "Opo-opo Kerso" (chan 2812888)
- 10/12/08--06:13: Fenomena Laskar Pelangi (chan 2812888)
- 10/19/08--09:47: Trekking di Bukit Kemuning (Karanganyar) (chan 2812888)
- 10/27/08--07:58: Perjanjian Di Bukit Kemuning (chan 2812888)
- 11/05/08--03:56: Celatu di Bakoel Kopi (chan 2812888)
- 11/14/08--04:50: Three Cups of Tea: Merebut Hati Himalaya *) (chan 2812888)
- 12/05/08--17:54: Sego Segawe (chan 2812888)
- 12/10/08--07:05: Surat (3)-- (Di Banten) (chan 2812888)
- 12/11/08--03:58: Surat 4 (Athens) (chan 2812888)
- 12/12/08--17:18: Sepotong Malam Di Cafe Club (chan 2812888)
- 12/30/08--16:47: Surat Old Bohemian ( 8 ) (chan 2812888)
- 02/10/09--19:18: Solilokui Ibu (chan 2812888)
- 03/10/09--21:35: Romansa Di Jalur Gragot (chan 2812888)
- 05/22/09--20:03: Pesta Tanjakan Jatiluhur--Plered (chan 2812888)
- 07/22/09--04:00: Menjaga Solo (chan 2812888)
- 09/07/09--06:25: Mudik, 16 September....perjalanan menuju asal muasal. (chan 2812888)
- 09/28/09--09:33: REUNI PERAK KASMAJI 85 TAHUN 2010 (chan 2812888)
19 Juli 2008. 58 klometer.

Iming-iming perjalanan kali ini adalah lintasan cross-country yang menantang dan suguhan sop daging sapi untuk makan siang. Soal lintasan, aku tahu pasti trek menuju Nawit (Kecamatan Serang, Kabupaten Bekasi) ini memang mengasyikan. Aku sudah beberapa kali ke sana dan tak pernah bosan menjelajah bentangan medan yang amat bercorak itu. Tetapi sop daging sapi? Hm, aku benar-benar belum tahu tempatnya dan bagaimana pula rasanya. ”Saya jamin mak-nyus,” ujar Ade Subrata, teman seperjalanan, sebelum kami berangkat, Sabtu, 19 Juli lalu.
Pagi itu, kami berempat berangkat dari gerbang Komplek Gading Timur Indah (Bekasi Timur) sekitar pukul 09.00. Sudah agak siang memang untuk memulai sebuah perjalanan. Apalagi di musim kemarau seperti ini sinar matahari sudah menyengat bahkan sebelum tengah hari. Tetapi tak apa, toh, nantinya kami akan banyak mengenjot di bawah rimbun tetumbuhan.
Setelah sepenanak nasi lamanya menggowes, persinggahan pertama adalah Danau Cibeureum—sebuah situ alami d...
Trek Cemorosewu. Terlihat batang cemara bekas terbakar. Dan kami menyimak semua
Ini bukan kisah petualangan bersepeda yang penuh heroisme atau romantika. Tak ada tanjakan menjulang, atau turunan menantang, yang biasa membakar nyali para pesepeda gunung untuk menjajalnya—dan kelak menceritakannya jika sukses melintasinya. Tak ada darah menetes dalam kisah ini. Ini adalah –dan hanyalah-- kisah sekelompok puak bertetangga dalam satu komplek, yang secara sederhana mencoba memberi makna pesan proklamasi, dengan cara bersepeda bersama. Tak lebih.
Danau Cibeureum dipilih menjadi tujuan warga RT 07 Komplek Graha Harapan Bekasi dalam acara ”Sepeda Kemerdekaan”, 18 Agustus lalu, itu. Gragot (Graha Gowes Team), klub sepeda setempat yang lahir dari rahim warga RT ini, telah mempertimbangkan berbagai sisi saat memilih danau Cibereum: jarak tak terlalu jauh, panorama beragam, dan sedikit banyak lokasi ini (bakal) bernilai historis.
Delapan kilo meter (pp) tentu saja jarak yang cukup bagi anak-anak, ibu-ibu, dan mereka yang tak menjadikan sepeda se...
Menyusuri ruas jalan alternatif ke Yogjakarta (dari arah Jakarta) ini, saya menemukan pemandangan unik. Dua kota kecil di Kabupaten Kendal itu sepertinya tak dihubungkan oleh angkutan umum. Padahal, sekilas terlihat, arus ekonomi jalur ini sepertinya begitu hidup. Anak-anak di pinggiran wilayah Kendal ini pun banyak yang bersekolah di kota.
Maka kreatifitas ala Melayu pun memberikan solusi. Mobil seukuran Suzuki Carry, dibuka bagian bak belakangnya. Dan di sanalah kebutuhan penduduk akan angkutan umum terpenuhi.
Mobil itu mengangkut apa saja. Mulai dari barang dagangan, ibu-ibu bakul pasar, sapi-sapi, bahan bangunan, juga anak-anak sekolah!
Pagi itu, 7 Agustus 2008, saya gagal memotret anak-anak sekolah di bak mobil. Karena kebanyaka mereka mengambil arah berlawanan dengan kami: menuju kota Kendal! Sedang saya menuju arah sebaliknya.
Ya, merekalah anak-anak pinggiran kota yang dengan segala cara mesti pergi ke sekolah. Bahkan meski itu harus bertaruh denga...

Apakah lagu ini mengungkapkan tema perjalanan--hingga harus diunggah di sini? Bagi saya ya. Lagu kelompok country-rock asal California, Eagles, berjudul Hotel California ini membuka tafsir terhadap tema tersebut. Inilah sebuah alegori dari perjalanan kegelisahan akan arus hedonisme yang merebak pada saat itu.
Don Henley, vokalis kelompok ini mengatakan, "Ini adalah interprestasi kami atas kehidupan kelas atas di Los Angeles." Lalu dia bertutur,"... it's basically a song about the dark
underbelly of the American dream and about excess in America, which is
something we knew a lot about."
Teman-teman seperjalanan, ayolah kita simak liriknya:
On a dark desert highway, cool wind in my hair,
Warm smell of Colitas [ 4 ] rising up through the air.
Up ahead in the distance, I saw a shimmering light.
My head grew heavy and my sight grew dim,
I had to stop for the night.
There she stood in the doorway;
I heard the mission bell.
And I was thinking to myself,
"This could be Heaven or t...
Buku karya Tulus Wijanarko ini diluncurkan diam-diam agar tak banyak orang tahu. Ia (buku itu) bermaksud menemui sendiri para pembacanya tanpa mengetuk pintu--apalagi uluk salam. Di sampul belakang bukunya tak tertera sebiji pun endorsment dari para penulis besar, apalagi penulis pemula, apalagi penulis gadungan. Karena buku ini bermaksud mempertanggung jawabkan dirinya sendiri tanpa bersandar pada apa pun--juga siapa pun. Kalau ia tak mengetuk pintumu, tanda-tanda antologi ini dapat diendus di rak-rak toko-toko buku mana pun. Mungkin tidak di rak utama.
Sebuah catatan ringan soal puasa, berjudul "Opo-opo Kerso" menurut rencana akan dimuat di Koran Tempo 17 September. Ini catatan yang mengungkap kenapa para koruptor tega petantang-petenteng sok tidak bersalah, meskipun ketika ramadhana datang ia sok kelihatan seperti orang
Tidak banyak karya sinema di negeri ini yang bisa dipertanggung jawabkan secara estetik, sekaligus pada saat yang sama mampu memberikan inspirasi kepada khalayak penontonnya. Film Laskar Pelangi adalah salah satu dari yang sedikit itu. Film ini sangat enak ditonton. Tetapi ia akan jauh lebih bernilai jika sejumlah kearifan yang tersimpan didalamnya dijadikan inspirasi untuk bekerja lebih keras menghadapi persoalan riil.
Tidak ada hero dalam film ini. Yang ada adalah kisah anak manusia biasa-biasa saja, tetapi mereka percaya bahwa mimpi merupakan hak setiap orang dan kerja keras adalah sebuah pilihan. Dan, para tokoh Laskar Pelangi memilih kerja keras untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.
Laskar Pelangi yang dibesut Riri Reza ini sudah memecahkan rekor jumlah penonton ketika pemutaran filmnya memasuki hari keempat. Penonton saat itu mencapai lebih dari 300 ribu orang. Ini angka yang belum pernah dicapai film-film box-office lain. Sejumlah kalangan memperkirakan Laskar Pelangi akan m...
Sebuah hamparan kebun teh yang memikat. Sebuah metemorfosis alam yang mengesankan. Dan sepengal perjalanan memahami tanda-tanda.
Mutiara hijau itu ”terpendam” di bumi Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, Jawa Tengah. Berjarak sekitar 10 kilometer di timur laut dari jalan utama Solo-Tawangmangu, inilah hamparan kebun teh yang kecantikannya belum banyak diketahui orang. Warga Solo dan sekitarnya, misalnya, lebih familiar dengan kawasan wisata Tawangmangu ketimbang permadani hijau seluas 483 hektare itu.
Tetapi di kawasan itulah aku berdiri pada sebuah siang awal Oktober lalu. Dalam genggaman tangan ada jari mungil anak bungsuku, Rausyan Fikri Muhamad, 3,5 tahun. Kami berdiri di sebuah pos pemberhentian yang diapit perbukitan. Kendaraan yang membawa kami dari Karanganyar kuparkir tak jauh dari tempat itu. Kupastikan tak ada bekal dan perlengkapan yang tertinggal untuk acara trekking sebentar lagi.
Hari itu, bersama sejumlah kerabat, kami akan menyusuri sudut-sudut perbukitan hijau yang mengingatkan pada kawasan Puncak atau Lembang tersebut. Ada jalan setapak melingkari bukit, dan kami akan menjelajah hingga...
Ini tidak terjadi di sebelah sisi sungai Sheine, Paris, yang terkenal itu. Sebuah ruang publik dengan gereja-gereja tua dan deretan kafe-kafe, lalu orang-orang datang kesana
untuk berdikusi, ketemu teman, atau sekedar merenung. Kawasan yang demikian hangat dan intim.
Selasa malam itu, ada capucino atau mocca, yang menemani tiga teman lama dipertemukan (lagi) oleh waktu. Sebuah meja kecil, tiga bangku, dan petang yang turun di sebuah kafe di pojok Jakarta Selatan: "Bakoel Kopi".
Kenapa aku tiba-tiba teringat Sungai Sheine (yang sama sekali belum pernah kukunjungi) itu---dan hanya kutahu lewat seorang perawi kata-kata saja? Barangkali karena di sela-sela obrolan nostalgik, kami juga mencereweti gula impor gelap yang dimusnahkan di sebuah pulau, kultur manajemen BUMN yang ternyata masih feodal, kesibukan para calon presiden tampil di iklan teve ketimbang menyusun rencana-rencannya atas bangsa yang compang-camping ini, atau tentang tayangan Empat Mata yang baru saj...
Tak perlu rudal dan bom untuk “menaklukkan” kaum militan. Cukup dengan menyediakan sekolah.
Tiga cangkir teh di Himalaya. Cangkir pertama adalah sambutan untuk tamu asing. Cangkir kedua menandakan si tamu sudah dianggap teman. Nah, pada cangkir ketiga, “Kau bergabung dengan keluarga kami dan karenanya keluarga kami siap berbuat apa pun, bahkan mati, demi dirimu.”
Makna tiga cangkir teh itu disampaikan Haji Ali Korphe, kepala desa di Gunung Korakoram, kepada Greg Mortenson, 51 tahun. Lelaki asal Montana, Amerika Serikat, ini telah bertahun-tahun mondar-mandir di labirin pegunungan Himalaya.
Sahib Greg, begitu dia dipanggil, mulanya adalah pendaki gunung. Tahun 1993, dia mendaki K2, puncak tertinggi di Korakoram, Himalaya. Sial, dia tersesat. Tubuhnya nyaris membeku. Kematian berjarak seujung kuku.
Setelah berhari-hari dihajar beku salju Korakoram, Mortenson diselamatkan orang gunung. Dia dirawat di rumah Haji Ali Korphe. Cangkir demi cangkir teh dihidangkan. Mortenson te...
Ketika warga Yogjakarta mendeklarasikan gerakan Sego Segawe, saya tak heran. Kota ini memang selalu ada di garda depan dalam setiap dinamika kebudayaan. Gerakan Sepeda Kanggo Sekolah Lan Nyambut Gawe (akronim Sego Segawe) jelas bagian dari aksi budaya yang tak main-main.
Mari kita lihat. Saat ini umat manusia tengah ramai-ramai melakukan penghancuran diri-sendiri. Alam yang semestinya menjadi pelindung kita, diganyang habis-habisan. Hutan-hutan digunduli, kekayannya dirampas untuk memenuhi nafsu serakah para mega-cukong.
Garis pantai diporak-porandakan, katanya untuk penambangan biji besi. Dataran luas diacak-acak demi pembangun pabrik semen. Bahwa , kandungan air tanah yang menjadi gantungan jutaan manusia sekitarnya tercemar, dianggap angin lalu. Uang-lah yang bicara, dab!.
Di kota, orang berlomba-lomba memenuhi jalanan dengan kendaraan bermotor. Mereka ramai-ramai mengecat langit (yang semula) biru menjadi abu-abu dengan asap knalpot.
Tetapi tampaknya tak banyak yang mah...
Prolog: Segepok surat dititipkan kepadaku, oleh seorang kawan, yang hanya ingin dikenal sebagai Old Bohemian. Dia berharap orang-orang terdekatnya bisa membaca suratnya lewat jalur ini. (Salam: TW) ****
anakku,
akhirnya kutemukan selembar kertas dari
serakan trotoar siang tadi. Kurasakan
kian sulit mencari kertas untuk sekadar
berkabar kepadamu (dan ibumu). Seluruh
kertas telah penuh kata-kata. Begitu berat
beban manusia kini, dan hanya kepada kertas
mereka kini bisa mengeluh.
Selembar kertas kosong ini, kukira milik seseorang
yang begitu berat beban hidupnya, hingga kata-
kata tak lagi mampu menampung kesahnya.
Bagaimana kabar ibumu? Tahukah engkau betapa aku
amat memujanya. Ibumu tak pernah kehilangan
cintanya pada bapakmu ini, meski tak pernah
berhenti berjalan. Wanita semurni apakah
ibumu itu anakku? Dan, betapa brengseknya
lelaki macam bapakkmu ini yg telah mensia-siakan
waktunya.
Anaku, terimalah penyesalanku juga atas waktu-
waktu kita yg begitu banyak tersiakan. Aku
tah...

"...when i grow older, i will be there at your side to remind you, how i still love you..."
Anakku,
berapa jauhkah menurutmu jarak antara Banten
dan Athens, sebuah kota kecil di pinggiran
Ohio ini? Berapa jauhkah, nak, jika kerinduan
seperti cakrawala: terasakan tapi tak terjangkau?
Dengan kerinduan macam itulah Banten dan Athens
sebenarnya bukan lagi sebuah jarak. Mereka
hanyalah tempat yang berbeda.
Anakku, jika aku bercerita musim gugur yang
tengah menjenguk Athens, adakah artinya buatmu?
Empat hari lalu matahari masih meluapkan
panasnya di siang-siang. Tetapi tiga hari terakhir
hawa mulai dingin, daun-daun mulai berubah warna.
Dan, rinduku tak beranjak kemana-mana....
Dan, anak-anak yang baku-canda di taman itu,
oh tuhan, betapa ingin kulihat wajahmu diantara
mereka. Anak-anak Asia, anak-anak Afrika, anak-anak
Amerika, dan kecipak mereka yang mengatasi
perbedaan bahasa.
Kenapa dunia tak dipimpin para bocah saja, anakku?
Ingin kulewatkan malam ini, dengan bait lagu
kegemaranmu itu. Masih kukenang suar...
Apa yang engkau harapkan dari sebuah pertemuan akhir pekan dengan sahabat lama? Pertanyaan itu yang merusuhi pikiranku saat menerima tahniah (sms) pendek dari ary permana:
"...Entar malem jam 19.00, di "Cafe Club", dekat ATM port, Plaza Senayan."
Agak lama kupandangi layar telepon selulerku ketika sandek (pesan pendek) itu masuk. Agak lama, karena aku tiba-tiba merasa berada pada ketegangan yang mengasyikan: mesti menuntaskan beban pekerjaan yang menumpuk di akhir pekan, atau memenuhi kesempatan
menarik mengulik rahasia sang waktu yang bernama: kenangan dan perubahan?
Semula, aku berharap bisa memetik sebutir hikmah dari sholat jum'at siang itu. Siapa tahu kata-kata pria di mimbar itu akan berguna membantu mengambil keputusan. Tetapi apakah yang engkau harap dari sebuah khotbah jum'at yang monoton dari waktu ke waktu? Hanya saja selalu ada cadangan kesabaran yang tersisa untuk mampu menjalani rutinitas itu tanpa keluh kesah.
Dan, ketegangan tak akan pernah memberi kemewahan...
Sobat,
Apakah hawa kematian yang engkau rasakan dalam 100 meter jalan setapak sejak keluar dari masjid ibrahim? Anak-anak, sobatku, mereka berbicara tentang hidup ketika menawarkan kopiah bulu domba. “one dollar please…one dollar please…..”
Dan, apakah mereka mengabarkan hawa maut ketika sesaat kemudian harus membungkus kepala dengan kaifiyeh dan memunguti batu- batu jalanan untuk sebuah intifadha?
Sobatku tercinta, sejatinyalah mereka tengah menembangkan semangat hidup yang terampas. Kematian hanyalah harga yang pantas untuk setiap perjuangan.
Tetapi sobatku, mereka tak pernah bergenit-genit dengan kematian. Mustahil hal seperti itu mereka lakukan layaknya remaja-remaja di belahan jagat lain yang mengingau tentang kematian hanya karena disulut cinta tak bersambut. Mereka hanya tahu, takdir tak mengijinkan mereka menyerah pada kematian tak wajar—sebagai orang jajahan.
Suhu di Hebron saat itu terpuruk di 15 derajat. Aku gemetar ketika di ...
situs anak-anak kasmaji

Malam, pada akhir pekan lalu, kesenyapan menjebakku di jalanan bebas hambatan. Gerimis bulan Januari menggaris kaca mobil butut yang kutumpangi. Seandainya tanpa lampu mobil, kegelapan ini nyaris sempurna.
Ini sebenarnya hari yang biasa saja. Tentu saja jika tanpa ingatan pada gelombang pesan yang datang dari pojok pasar, poros Blok M-Kota yang gemuruh oleh ceceran kisah busway, pidato-pidato di Tugu Proklamasi, kegalauan di sebuah gedung Jalan Imam Bonjol, atau dari hatiku sendiri yang masygul. Susul menyusul sepanjang minggu ini.
Aku teringat ibu dan kampungku di “Jawa” sana. Tiba-tiba aku ingin melengkapi kesenduan (dan kesendirian) ini dengan sepotong lagu, “Kebaya Merah”. Kasetnya selalu tersimpan di laci bawah dasboard. Kini aku ingin mendengarkannya. Betapapun akustik di mobil butut ini tak senyaman yang engkau inginkan.
Kebaya merah kau kenakan
Anggun walau tampak kusam
Kerudung putih terurai
Ujung yang koyak tak kurangi cintaku
Wajahmu seperti menyimpan duka
Padahal kursimu...
Libur akhir pekan yang panjang, dan kita sudah tahu betapa banyak cara untuk melewatinya. Kemarin sore kita melihat ribuan kendaraan menuju pusat perhelatan festival musik internasional di Senayan. Mereka adalah lapisan khalayak yang memiliki kalkulasi bahwa sebuah ekstra-pakansi layak dilunaskan dengan menikmati musik-musik adiluhung.
Malamnya kita lolos dari gelombang kendaraan yang meluber di jalan bebas hambatan menuju luar kota. Dari atas jembatan penyebarangan, kita mebayangkan puluhan --mungkin ratusan-- ribu jiwa didalam kendaraan itu tengah harap-harap cemas memburu sepercik jeda di luar kota. Sebuah “luar kota” yang kadang absurd. Sebab pada destinasi, mereka justru menjemput persoalan yang hendak mereka tingalkan di kota keberangkatan: kemacetan, kehibukkan, keterburu-buruan, dan perpacuan dengan waktu.
Tetapi, imaji “luar kota” selalu mampu menaklukan fatamorgana apa pun. Maka deretan kendaraan lalu sungguh mengular jauh. Kita melihat ribuan lampu mobil yang ...

Menjelang tengah hari pastilah bukan waktu yang pas untuk memulai penjelajahan dengan sepeda. Tetapi apa boleh buat, banyak sekali halangan di Tol Cikampek tadi sehingga kami baru "mendarat" di Waduk Jatiluhur, Purwakarta, sekitar pukul 10.30 WIB. Sambil merakit sepeda, saya dan kang Ade berdiskusi apakah misi gowes Jatiluhur-Cirata masih layak dicoba. Akhirnya, persis pukul 11.00, dengan sedikit kurang pemanasan, kayuhan pertama dilakukan. Misi sedikit direvisi: finis di Plered (Pusat Kerajinan Gerabah) sambil melihat kemungkinan untuk lanjut ke Waduk Cirata.
Langit diatas Jatiluhur siang itu sedikit mendung. Panas tak begitu menyengat. Bagi kami, ini tanda-tanda yang baik untuk memulai eksplorasi trek baru. Maklum, diantara kami berdua belum ada yang pernah menjajal rute ini. Dulu, kang Ade pernah memutari Jatiluhur. Tetapi ya cuma sebatas itu.
Kira-kira 15 menit, setelah menempuh sebujur putaran, kami mulai mblusuk ke kampung Seurpis (cmiiw) dan melintasi jalur sempit diantara r...
Dawet telasih. Saya nyaris tak pernah absen menikmati jajanan minuman itu setiap pulang kampung ke Karanganyar. Aroma dan rasa es dawet yang sangat khas itu selalu menarik minat saya untuk blusukan ke Pasar Gede, Solo, tempat penjualnya mangkal. "Ritual" itu pulalah yang saya lakoni ketika ngancani acara liburan anak-anak belum lama ini.
Dawet telasih, bagi saya, adalah wakil dari sesuatu yang langgeng pada Kota Solo atau Surakarta Hadiningrat. Posisinya setara dengan kue serabi Notosuman, tengkleng Pasar Klewer, kupat tahu dekat Masjid Solihin, kue intip Pasar Gede, dan tentu saja budaya angkringan. Ini adalah jajaran penganan yang tidak sekadar bisa dinikmati sebagai pengisi usus besar kita, tapi juga menjadi ikon kuliner yang barangkali ikut menyertai sejarah Kota Solo dalam beberapa dekade terakhir.
Ini bukan soal romantisisme. Tapi ini sebenarnya bagian dari harapan yang diam-diam tumbuh di hati saya tentang Kota Solo. Harapan itu kian membesar justru saat saya melihat apa y...
Reuni
